1. Skip to navigation
  2. Skip to content


image

Pupuk Cair

  • Progress 0%
  • Modal Dasar Rp 100.000.000
  • Dana Terkumpul Rp 0
  • Link Referensi Link
  • Industri Pertanian
  • Product 1pt
  • People 1pt
  • Investment 1pt
Vote!

Penjelasan Lengkap

Ide ini dilihat sebanyak : 2374 kali.

Enam tahun yang lalu hampir setiap pagi (antara Jam 05.30-06.30) saya selalu lewat pasar kramatjati untuk mengajar di salah satu sekolah negeri di daerah cipinang, setiap hari pula saya memperhatikan selalu ada 2 truk sampah yang berasal dari kegiatan jual beli pada saat malam hari, sampah tersebut kebanyakan sampah bekas pilihan sayur yang kurang baik atau kulit buah dan sayuran dan kegiatan itupula erjadi di setiap pasar besar seperti pasar minggu, pasar induk, pasar rumput, pasar kebayoran dan lainnya.

Permasalahan sampah saat ini masih menjadi salah satu masalah yang besar di setiap kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya. ada banyak cara untuk mengolah sampah tersebut dengan mengolahnya dengan sebelummnya dipilah, salah satunya dengan mengolah menjadi pupuk cair. Selain menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah persampahan mungkin menjadi alternatif penggunaan pupuk yang sekarang langka dan mahal. Semoga menjadi kenyataan....



Ide Serupa

  1. Layanan Web untuk Pedagang Pasar

    Diusung oleh Pemberdayaan, 2 tahun yang lalu
  2. Website Microfinance Pembiayaan Interaktif Investasi Pohon "Jabon"

    Diusung oleh Luqman, 2 tahun yang lalu
  3. Budidaya Jamur Tiram

    Diusung oleh DONNY, 1 tahun yang lalu
  4. Budidaya Jamur Merang

    Diusung oleh adhi, 1 tahun yang lalu
  5. HUTAN HERBAL sebagai GERAKAN SOSIAL

    Diusung oleh haidir, 1 tahun yang lalu

Submit Komentar Anda    

3 Komentar

  1. Membuat Pupuk Cair Sampah tidak hanya bisa dibuat menjadi kompos atau pupuk padat. Sampah juga bisa dibuat sebagai pupuk cair. Pupuk cair mempunyai banyak manfaat. Selain untuk pupuk, pupuk cair juga bisa menjadi aktivator untuk membuat kompos. Menurut Subagiyo, warga Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang telah mempraktikkan membuat pupuk cair, pupuk cair juga bisa disiramkan ke lubang WC agar limbah tinja di dalam septik tank menjadi padat. "Dua liter pupuk cair bisa menghemat penyedotan tinja. Jika biasanya setahun sekali tinja harus disedot, bisa menjadi dua tahun sekali," kata Subagiyo. Berikut cara membuat pupuk cair yang telah dipraktikkan Subagiyo: 1. Cincang sampah hijau seperti sisa sayuran, sayuran basi, dan sebagainya. 2. Siapkan tong plastik atau tong bekas wadah cat tembok ukuran 25 kilogram (kg), lengkap dengan tutupnya. Siapkan juga kantong plastik ukuran 60 cm x 90 cm dan beri beberapa lubang sebesar 1 cm. Lubang ini untuk memperlancar sirkulasi air dalam tong. 3. Siapkan 1/4 kg gula merah yang sudah dilarutkan. 4. Siapkan 1/2 liter bahan EM4 untuk mempermudah proses pelarutan. 5. Siapkan 1/2 liter air bekas cucian beras. 6. Siapkan 10 liter air tanah. Untuk hasil maksimal jangan gunakan air hujan atau air PAM. 7. Campur air bekas cucian beras, EM4, dan air gula ke dalam tong plastik. Sementara itu cincangan sampah hijau dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah dilubangi. Setelah itu, masukkan kantong plastik ini ke dalam tong plastik dan tambahkan air tanah. 8. Ikat kantong plastik berisi sampah hijau itu dan tutup pula tong plastik itu dengan rapat selama tiga minggu (21 hari). 9. Setelah tiga minggu, sampah dalam tong itu tidak berbau dan kelihatan menyusut. Angkat sampah itu hingga air tiris. Sampah dari dalam plastik menjadi pupuk padat, sedangkan air dalam tong menjadi pupuk cair. (ARN) M CLARA WRESTI Minggu, 29 Oktober 2006 Copyright © 2002 Harian KOMPAS ============================== Sampah Bernilai Ekonomi Ketika masyarakat bisa memandang sampah sebagai bahan baku dan bukan barang yang tidak berharga, kegiatan ekonomi pun perlahan-lahan akan tumbuh. Inilah yang sudah mulai dilakukan warga RW 01, 02 dan 08 Ancol Barat, Pademangan, Jakarta Utara, seperti yang diberitakan oleh Kompas hari ini (24/04/06), yang mengolah sampah menjadi kompos atau kertas daur ulang. Tentu saja ada sebabnya mengapa warga mau dan bisa melakukan hal ini. Karena ada perusahaan yang bersedia menjadi mitra warga dengan memberikan modal dan membeli hasil pengolahan sampah itu, dalam jumlah yang cukup besar yakni sebanyak 30 ton dengan harga Rp 750 per kilogramnya. Selain dijual ke perusahaan mitra warga tersebut, kompos hasil olahan sampah itu juga dijual ke pihak lainnya. Dengan cara yang sederhana dan manual, kegiatan ini terbukti efektif mengurangi jumlah sampah yang dibuang dari wilayah tersebut ke TPA secara signifikan dari 80 meter kubik per harinya menjadi hanya sekitar 8 meter kubik saja. Apa yang sudah terbukti berhasil dilakukan di Jakarta ini seharusnya juga bisa dilakukan di kota-kota besar lainnya di Indonesia, asalkan bisa diciptakan kerjasama yang saling menguntungkan antara dunia usaha, pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Perusahaan-perusahaan yang memerlukan hasil olahan sampah berupa kompos atau kertas daur ulang bisa patungan untuk bersama-sama menyediakan modal dan menjadi pembelinya. Pemerintah daerah-karena mereka sudah banyak dibantu dalam menangani urusan sampah dan pemberdayaan ekonomi masyarakat-bisa memberikan insentif pajak atau lainnya bagi perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra warga. Masyarakat setempat jelas bisa memberikan tenaganya atau paling tidak ikut membantu memisahkan sampah sejak masih berada di tempatnya masing-masing, sehingga memudahkan proses daur ulang dan pembuangannya. Alangkah indahnya kerjasama seperti ini! Lingkungan jadi bersih, masyarakat jadi sehat, ekonomi jadi tumbuh, sampah pun tetap ada manfaatnya!
    joko

    joko prasetiyo

    10 Juli 2011

  2. Mengubah Sampah Menjadi Kompos AGAR sampah bisa dijadikan sebagai bahan baku kompos, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemilahan sampah sesuai jenis. Saat ini memang masih terasa sulit memilah-milah sampah. Namun, bila sejak awal sudah dibiasakan, pemilahan akan lebih mudah dilakukan. Pemilahan sebaiknya sudah dilaksanakan sejak tingkat rumah tangga, pasar, atau komunitas lain. Sampah organik dipisah dari sampah non-organik. Caranya, dengan menempatkan masing-masing jenis ke dalam kantong plastik yang berbeda warna. Misalnya kantong plastik bening untuk sampah organik, kantong plastik putih untuk sampah kertas/karton, dan kantong warna hitam untuk jenis sampah lainnya. Sampah hasil pemilahan lalu dikirim ke titik RT (first line point). Selanjutnya, oleh petugas yang dibiayai oleh masyarakat, sampah itu dibawa ke titik pengumpulan RW (second line point). Dari situ dibawa ke tingkat kelurahan (third line point), untuk kemudian diangkut ke pabrik kompos. Sedangkan sampah nonorganik seperti besi dikirim ke pedagang besi tua, sampah plastik ke pabrik plastik daur ulang, sampah kertas/karton ke pabrik kertas/karton daur ulang. Demikian pula dengan sampah berupa kaca. Di pabrik kompos, sampah organik langsung dicacah menjadi halus. Setelah itu, dibawa ke lokasi pembuatan kompos yang letaknya di tempat yang sama. Para pemulung yang jumlahnya begitu banyak dapat dilibatkan dalam pembuatan kompos ini. Proses pembuatan kompos ini sangat sederhana sehingga mereka jika dilatih akan menguasainya dengan cepat. Jika proses ini dapat diselesaikan dalam waktu sehari selesai (one day finish), bau busuk akan hilang dengan sendirinya. Sampah organik dapat dibuat menjadi kompos hanya dalam waktu dua minggu, sisanya memerlukan waktu lebih lama. Sisanya, sebanyak 15-20 persen sampah organik yang tak terurai akan dibakar dan arangnya bisa dimanfaatkan untuk menaikkan pH tanah dan mengikat unsur logam berat yang beracun. Kebutuhan lahan Lahan yang diperlukan sekira 1 m2 per 2 m3 sampah dikalikan potensi jumlah sampah yang ada dan waktu yang diperlukan untuk mengolah sampah. Misalnya, produksi sampah mencapai 150.000 ton/bulan, lahan yang dibutuhkan mencapai 15 ha. Lahan tersebut bisa dibagi menjadi 3-4 lokasi agar jarak tempuh kendaraan pengangkut tidak terlalu jauh. Setiap pekerja dapat membuat kompos sekira 1 ton/hari. Jika tiap kg kompos "dibeli" dengan harga Rp 25,00/kg, mereka akan mendapatkan penghasilan Rp 25.000,00 hari. Sampah organik sebanyak 2.000 ton setelah diolah dan disaring akan menjadi 1000-1200 ton saja atau dengan angka konversi 50-60 persen. Sisanya menguap. Biaya pembuatan kompos sekira Rp 75,00 - Rp 100,00/kg, termasuk biaya pembelian mikroba pelapuk bahan organik sebesar Rp 6.000,00 - Rp 33.000,00/ton sampah. Jika harga jualnya sekira Rp 200,00/kg maka kompos ini akan laris terjual. Saat ini harga kompos di pabrik sekira Rp 350,00 - Rp 1.50,00/kg, umumnya hanya terserap oleh tanaman hias dan beberapa jenis tanaman hortikultura dan pangan. Kompos sangat dibutuhkan untuk lahan pertanian karena fungsinya yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kesuburan kimia dan fisik tanah akan bertambah dan selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Di bidang perikanan, misalnya tambak umur pemeliharaan ikan dapat dipersingkat. Areal bekas pertambangan akan sangat baik jika diberi kompos, lahan yang sudah rusak dapat ditanami kembali. Kandungan hara Kompos yang baik mengandung unsur hara makro Niotrogen > 1,5 % , P2o5 (Phosphat) > 1 % dan K20 (Kalium ) > 1,5 %, disamping unsur mikro lainnya. C/N ratio antara 15-20 , diatas atau dibawah itu kurang baik. Untuk kepentingan bisnis, pupuk kompos yang dihasilkan harus mempunyai kualitas yang ajek dan supply yang berkesinambungan. Pupuk kompos untuk tanaman organik, jika unsur haranya kurang dapat ditambah dengan bahan organik lainnya. Nitrogen dapat ditambahkan urine ternak, mikroba pengikat Nitrogen, pupuk organik yang berasal dari hewani seperti ikan, darah, dll. Phosphat dapat ditambahkan dari pupuk guano atau rock phosphat, dapat juga dicampurkan dengan mikroba pelepas phosphat. Kalium dapat ditambahkan dari arang/abu batok kelapa/kelapa sawit, abu bekas incenerator, dll. Pupuk kompos yang tidak diperuntukkan bagi tanaman organik, selain dari campuran di atas dapat pula diberikan campuran dengan pupuk buatan. Jadi, pupuk seperti ini hanya dipergunakan untuk tanaman nonorganik. Karena bahan baku sampah tidak tetap, diperlukan campuran dengan bahan lain agar kualitasnya terjaga. Quality control harus diterapkan di sini, sehingga orang yang membeli benar-benar puas. Jenis kompos Produksi kompos dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok. Pertama, kompos murni. Pupuk ini ditujukan untuk lahan tanaman organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik. Kedua, kompos plus mikroba (pengikat N dan pelepas P). Pupuk yang telah diperkaya ini juga diperuntukkan untuk lahan pertanian organik, namun juga dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik (biasa). Ketiga, kompos plus pupuk buatan. Pupuk ini hanya dapat digunakan untuk lahan pertanian nonorganik Pada dasarnya kompos dapat meningkatkan kesuburan kimia dan fiisik tanah yang selanjutnya akan meningkatkan produksi tanaman. Pada tanaman hortikultura (buah-buahan, tanaman hias, dan sayuran) atau tanaman yang sifatnya perishable ini hampir tidak mungkin ditanam tanpa kompos. Demikian juga di bidang perkebunan, penggunaan kompos terbukti dapat meningkatkan produksi tanaman. Di bidang kehutanan, tanaman akan tumbuh lebih baik dengan kompos. Sementara itu, pada perikanan, umur pemeliharaan ikan berkurang dan pada tambak, umur pemeliharaan 7 bulan menjadi 5-6 bulan. Selain itu, kompos membuat rasa buah-buahan dan sayuran lebih enak, lebih harum dan lebih masif. Hal inilah yang mendorong perkembangan tanaman organik, selain lebih sehat dan aman karena tidak menggunakan pestisida dan pupuk kimia rasanya lebih baik, lebih getas, dan harum. Penggunaan kompos sebagai pupuk organik saja akan menghasilkan produktivitas yang terbatas. Penggunaan pupuk buatan saja (urea, SP, MOP, NPK) juga akan memberikan produktivitas yang terbatas. Namun, jika keduanya digunakan saling melengkapi, akan terjadi sinergi positif. Produktivitas jauh lebih tinggi dari pada penggunaan jenis pupuk tersebut secara masing-masing. Selain itu, air lindi yang dianggap mencemarkan sumur di lingkungan TPA dapat dijadikan pupuk cair atau diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke saluran umum. Keuntungan lainnya dengan dihilangkannya TPA (tempat pembuangan akhir) dan diganti dengan TPK (tempat pengolahan kompos) alias pabrik kompos, lahan untuk sampah ini tidak berpindah-pindah, cukup satu tempat untuk kegiatan yang berkesinambungan. Dengan demikian, pembuatan kompos dari sampah organik perkotaan akan sangat menguntungkan. Pemkot pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Jika dalam sehari ada 5.000 ton sampah, dalam sehari tersedia 3.500 ton sampah organik yang siap dikonversi menjadi kompos. Dengan asumsi 1 kg sampah organik bisa menghasilkan 0,6 kg kompos, dalam sehari bisa dihasilkan 2.100 ton kompos. Dalam sebulan tersedia 63.000 ton kompos. Jika tiap kg kompos dijual dengan harga Rp 200,00, gross income per bulannya mencapai 12,6 miliar dan net income Rp 6,3 miliar. Lumayan besar. Jadi, kenapa tidak coba dimulai mendirikan pabrik kompos.*** Ir. Memet Hakim, MM Instruktur Manajemen Sampah sumber : Pikiran Rakyat Online
    joko

    joko prasetiyo

    10 Juli 2011

  3. Membuat Pupuk Cair – EM4 : Menyuburkan Tanah, Menghancurkan Sampah Banyak cara untuk membuat Effective Microorganism atau "mikroba efektif" untuk mempercepat proses pembuatan kompos. Salah satu di antaranya adalah yang kami tulis di bawah ini. Pengalaman teman-teman kami membuat EM4 dengan isi usus binatang telah menimbulkan bau yang kurang sedap sehingga kami memilih jalan pembuatan yang sifatnya vegetarian, dari bahan-bahan tanaman yang mudah dan cepat busuk. Penemuan yang sangat berharga untuk pertanian mandiri ini, -- awalnya adalah orang Jepang, bernama Teruo Higa pada tahun 1970 -- kini telah banyak diterapkan oleh para petani modern. Tapi masih banyak pula yang belum melakukannya karena lebih percaya pada pupuk kimia yang dirasa "lebih praktis" tapi sesungguhnya tidak sehat baik untuk tanah, tanaman maupun untuk kita manusia. Bahan-bahan : Sampah sayur, terutama kacang-kacangan Kulit buah-buahan (papaya, pisang, rambutan, mangga, dsb.) Bekatul, secukupnya Gula merah, sedikit saja Air beras, secukupnya Cara membuat: Sampah sayur, kulit buah-buahan dan bekatul dicampurkan. Tempatkan misalnya di dalam sebuah ember atau penampung yang lain. Tutup. Sambil kadang-kadang diaduk, biarkan selama satu minggu sampai membusuk sehingga menjadi EM1. EM singkatan dari Effective Microorganism, yaitu jasad renik "ganas" yang akan mempercepat proses pengomposan. Ditengarai dengan angka 1 karena inilah cairan mikroorganisme yang terbentuk setelah mengalami dekomposisi selama satu minggu. Cairan EM1 dicampur dengan sampah sayur dan kulit buah-buahan. Kemudian didiamkan lagi selama satu minggu. Cairan baru yang terbentuk disebut dengan EM2. Cairan EM2 dicampurkan dengan bekatul, gula merah dan air beras. Dan didiamkan lagi selama satu minggu sehingga menjadi EM3. Diamkan lagi selama satu minggu tanpa menambahkan apa-apa. Cairan itu telah menjadi EM4. (dikutip : dari berbagai sumber)
    joko

    joko prasetiyo

    10 Juli 2011